Saat membuka keran dan melihat air mengalir, jarang sekali kita memikirkan perjalanan panjang yang dilalui air tersebut. Air yang tampak jernih di rumah Anda sebenarnya melewati serangkaian proses teknis yang cukup kompleks di instalasi pengolahan air milik PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum).
Pengolahan air PDAM dirancang agar air baku dari sungai, danau, waduk, atau mata air bisa diubah menjadi air bersih yang memenuhi standar kesehatan. Proses ini melibatkan kombinasi rekayasa kimia, fisika, dan biologi yang tertata berlapis, sehingga kontaminan yang membahayakan kesehatan dapat diminimalkan.
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara runtut bagaimana pengolahan air PDAM berlangsung, tantangan yang dihadapi, sampai tips praktis bagi pelanggan untuk memastikan air yang digunakan tetap aman.
Dari Air Baku Menjadi Air Siap Didistribusikan
1. Sumber Air Baku
Langkah pertama adalah penentuan sumber air baku. PDAM di Indonesia umumnya memanfaatkan:
- Sungai sebagai sumber utama
- Waduk atau danau buatan
- Mata air di daerah pegunungan
- Air tanah (di beberapa daerah tertentu)
Kualitas air baku sangat menentukan berat-ringannya proses pengolahan. Sungai yang tercemar limbah rumah tangga, industri, atau pertanian tentu membutuhkan proses pengolahan yang lebih intensif dibandingkan air dari mata air yang relatif lebih bersih.
2. Pengambilan (Intake) dan Penyaringan Awal
Air baku diambil melalui struktur intake yang dilengkapi saringan kasar. Fungsi saringan awal ini adalah:
- Menahan sampah besar seperti daun, plastik, kayu
- Mengurangi risiko kerusakan pompa dan peralatan
Setelah itu, air dialirkan ke unit pra-pengolahan untuk disiapkan masuk ke tahapan lebih halus.
Tahapan Utama Proses Pengolahan Air di PDAM
Secara umum, proses pengolahan air PDAM terbagi dalam beberapa tahapan utama. Detail di tiap daerah bisa sedikit berbeda, tetapi prinsip dasarnya hampir sama.
1. Koagulasi: Mengikat Kotoran Halus
Banyak kotoran di air baku berbentuk partikel sangat kecil (koloid) yang tidak bisa mengendap sendiri. Di tahap koagulasi, PDAM menambahkan bahan kimia seperti:
- Tawas (aluminium sulfat)
- PAC (Poly Aluminium Chloride)
Bahan ini bermuatan positif, sehingga bisa mengikat partikel kotoran bermuatan negatif. Hasilnya, partikel-partikel kecil tersebut mulai bergabung membentuk gumpalan kecil (flok).
2. Flokulasi: Membesarkan Gumpalan Kotoran
Setelah koagulasi, air masuk ke bak flokulasi. Di sini terjadi:
- Pengadukan lambat dan teratur
- Gumpalan kecil saling bertabrakan dan bergabung
- Terbentuk gumpalan lebih besar dan berat
Tahap ini penting agar kotoran bisa mengendap dengan lebih mudah di bak berikutnya.
3. Sedimentasi: Mengendapkan Kotoran
Air yang sudah mengandung gumpalan besar dialirkan ke bak sedimentasi. Pada tahap ini:
- Aliran air diperlambat
- Gumpalan kotoran mengendap ke dasar bak
- Lapisan air bagian atas menjadi lebih jernih
Lumpur yang mengendap di dasar bak akan disedot secara berkala dan dibuang atau diolah kembali sesuai standar lingkungan.
4. Filtrasi: Menyaring Sisa Partikel
Setelah sedimentasi, air masih mungkin mengandung partikel halus dan zat lain yang belum tersaring. Karena itu, air kemudian dialirkan ke unit filtrasi yang berisi:
- Lapisan pasir silika
- Kerikil
- Media filter lain yang berpori seperti karbon aktif
Di sinilah sisa partikel terperangkap secara fisik ketika air melewati pori-pori media filter. Untuk menjaga kinerja filter, PDAM melakukan backwashing (pencucian balik) secara berkala. Pada tahap ini pula, banyak PDAM yang bekerja sama dengan distributor karbon aktif untuk memastikan ketersediaan media filtrasi yang mampu menyerap bau, warna, dan beberapa zat organik.
5. Desinfeksi: Membunuh Mikroorganisme Patogen
Setelah air jernih secara fisik, tahap kritis berikutnya adalah desinfeksi. Tujuannya:
- Membunuh bakteri patogen (misalnya E. coli)
- Menginaktivasi virus dan mikroorganisme lain
Metode yang paling sering digunakan PDAM adalah klorinasi, yaitu pemberian klorin (gas, cair, atau bentuk senyawa lainnya) dalam dosis terkontrol. Di beberapa instalasi modern, desinfeksi tambahan dilakukan dengan:
- Sinar UV
- Ozon
Namun, klorin tetap populer karena selain efektif, ia juga meninggalkan sisa desinfektan di jaringan pipa sehingga membantu melindungi kualitas air sampai ke rumah pelanggan.
6. Penyesuaian pH dan Kualitas Akhir
Di tahap akhir, PDAM memantau dan menyesuaikan:
- pH air (idealnya netral atau mendekati netral)
- Kandungan zat terlarut tertentu
- Parameter rasa, bau, dan warna
Jika ada parameter yang belum sesuai standar, dilakukan penyesuaian kimia atau pengolahan tambahan. Setelah semua parameter memenuhi standar, barulah air dialirkan ke reservoir dan siap dipompa ke jaringan distribusi.
Baca juga: Strategi Pengelolaan Limbah Cair Tekstil dengan Water Treatment
Standar Kualitas: Mengapa Air PDAM Harus Diuji Berkala?
Pengolahan air tidak berhenti di instalasi saja. PDAM juga wajib melakukan pengujian berkala di:
- Titik keluaran instalasi pengolahan
- Jaringan pipa distribusi
- Titik-titik tertentu di wilayah layanan
Parameter yang diuji antara lain:
- Kekeruhan
- Warna dan bau
- Kandungan zat kimia (besi, mangan, nitrat, sisa klor, dan lain-lain)
- Kandungan mikrobiologis (koliform total, E. coli)
Pengujian ini bertujuan memastikan air yang sampai ke rumah pelanggan tetap memenuhi standar air minum/air bersih sesuai regulasi kesehatan yang berlaku di Indonesia.
Tantangan Pengolahan Air PDAM di Indonesia
Di atas kertas, alur proses pengolahan air PDAM terlihat rapi. Namun di lapangan, ada beberapa tantangan yang sering muncul.
1. Kualitas Air Baku yang Menurun
Pencemaran sungai akibat:
- Limbah rumah tangga tanpa pengolahan
- Limbah industri yang tidak dikelola baik
- Limbah pertanian (pupuk, pestisida)
membuat kualitas air baku menurun. Ini memaksa PDAM:
- Menggunakan dosis bahan kimia lebih tinggi
- Melakukan pemeliharaan instalasi lebih intensif
- Menghadapi risiko keluhan pelanggan jika ada perubahan bau atau rasa
2. Jaringan Pipa yang Tua
Di banyak kota, sebagian jaringan pipa distribusi sudah berumur puluhan tahun. Dampaknya:
- Kebocoran dan kehilangan air (non-revenue water) meningkat
- Risiko masuknya kontaminan dari luar jika tekanan tidak stabil
- Kekeruhan meningkat ketika terjadi gangguan aliran
Perbaikan jaringan pipa butuh investasi besar dan waktu, sehingga sering dilakukan bertahap.
3. Pertumbuhan Penduduk yang Cepat
Kota tumbuh, kawasan perumahan baru muncul, dan kebutuhan air terus meningkat. PDAM harus:
- Menambah kapasitas produksi
- Memperluas jaringan pipa
- Menjaga agar tekanan air tetap memadai di semua wilayah
Jika kapasitas instalasi tidak segera ditingkatkan, pelanggan akan merasakan penurunan tekanan atau suplai air yang tidak merata.
Peran Pelanggan dalam Menjaga Kualitas Air PDAM
Meski pengolahan dilakukan di instalasi, kualitas air di rumah juga sangat dipengaruhi instalasi milik pelanggan sendiri.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Tandon Air (Torent) Bersih
- Bersihkan tandon minimal 2 kali setahun
- Tutup rapat agar tidak dimasuki serangga, tikus, atau kotoran lain
Pipa Instalasi Rumah
- Gunakan pipa berkualitas dan tahan korosi
- Segera perbaiki jika ada kebocoran untuk mencegah kontaminasi dan pemborosan air
Hindari Menyambung Pipa Sembarangan
Sambungan ilegal atau instalasi yang tidak standar bisa memengaruhi tekanan dan kualitas air
Dengan instalasi rumah yang baik, kerja PDAM di hulu tidak “sia-sia” ketika air sampai ke kran Anda.
Tips Memastikan Air PDAM Aman Digunakan di Rumah
Sebagai pelanggan, Anda juga bisa melakukan beberapa langkah sederhana:
Perhatikan warna dan bau air
Jika terjadi perubahan mencolok (misalnya tiba-tiba keruh, berbau kuat), hentikan pemakaian sementara dan laporkan ke PDAM.Gunakan filter rumah tangga bila perlu
Filter sederhana dapat membantu mengurangi partikel halus. Namun, filter harus rutin dibersihkan atau diganti agar tidak menjadi sumber kuman.Rebus air untuk diminum
Merebus air sampai mendidih tetap menjadi cara sederhana dan efektif untuk memastikan keamanan mikrobiologis, terutama di wilayah yang kualitas distribusinya masih fluktuatif.Simpan air minum dengan benar
Gunakan wadah yang bersih, tertutup, dan tidak sering dipegang bagian dalamnya.
Langkah-langkah kecil ini bisa menjadi lapisan perlindungan tambahan selain pengolahan yang dilakukan PDAM.
Penutup: Memahami Proses, Meningkatkan Kepercayaan
Sekarang Anda sudah punya gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana pengolahan air PDAM bekerja: mulai dari pengambilan air baku, koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, hingga desinfeksi dan pengawasan kualitas.
Proses ini tidak sempurna dan menghadapi banyak tantangan, terutama terkait kualitas air baku dan kondisi jaringan pipa. Namun, dengan pengelolaan yang baik, investasi berkelanjutan, dan dukungan kebijakan pemerintah, PDAM tetap menjadi tulang punggung penyediaan air bersih bagi masyarakat.
Di sisi lain, pelanggan juga punya peran penting: merawat instalasi rumah, menggunakan air dengan bijak, serta aktif melaporkan jika ada gangguan kualitas. Kolaborasi antara PDAM dan pelanggan inilah yang pada akhirnya menentukan seberapa layak air yang mengalir di rumah kita—bukan hanya jernih secara visual, tetapi juga aman bagi kesehatan keluarga.