Proses ekstraksi emas dari bijih mineral tidak selalu berjalan optimal, terutama pada jenis bijih emas refraktori (refractory gold ore) / biji emas yang kompleks. Jenis bijih ini memiliki tingkat perolehan emas (gold recovery) yang rendah meskipun telah melalui proses penggilingan dan pelindian menggunakan sianida (cyanidation). Bijih emas refraktori umumnya menghasilkan recovery kurang dari 80% karena emas sulit terlepas dari mineral pengikatnya.
Permasalahan utama pada bijih emas refraktori terjadi karena beberapa faktor, seperti emas yang terperangkap secara fisik dalam mineral seperti kuarsa atau pirit, serta keberadaan mineral pengotor yang ikut mengonsumsi reagen selama proses ekstraksi.
Selama lebih dari satu abad, natrium sianida (NaCN) menjadi bahan kimia utama dalam ekstraksi emas karena memiliki kemampuan melarutkan emas yang tinggi, biaya relatif rendah, dan selektivitas yang baik terhadap logam emas dibandingkan logam lainnya. Namun, penggunaan sianida memiliki risiko lingkungan karena bersifat toksik dan dapat menghasilkan senyawa berbahaya apabila tidak dikendalikan dengan baik.
Kondisi tersebut mendorong penelitian terhadap bahan kimia alternatif pengganti sianida, salah satunya adalah Sandioss, yaitu bahan pelindi (leaching agent) emas yang dikembangkan sebagai reagen dengan tingkat toksisitas lebih rendah dan potensi penggunaan yang lebih aman.
Baca juga: Fungsi Kapur dalam Pengolahan Emas Yang Wajib Anda Ketahui
Apa Itu Sandioss dalam Ekstraksi Emas?
Sandioss merupakan bahan kimia pelindi emas yang digunakan sebagai alternatif pengganti natrium sianida (NaCN) dalam proses ekstraksi emas. Material ini digunakan untuk melarutkan emas dari berbagai jenis bijih, termasuk bijih emas oksida, sulfida, arsenik, tailing sianida, hingga limbah papan sirkuit elektronik (electronic waste).
Dalam penelitian ini, Sandioss digunakan sebagai agen pelindi pada bijih emas refraktori dari Gua Musang, Kelantan, Malaysia. Kandungan Sandioss terdiri dari beberapa komponen kimia seperti natrium oksida (Na₂O), besi karbida, sulfur, dan kelompok amonium.
Keunggulan Sandioss dibandingkan sianida adalah:
- Tingkat toksisitas lebih rendah.
- Tidak menghasilkan gas beracun selama proses pelindian.
- Lebih aman dalam penyimpanan dan penggunaan.
- Memiliki tingkat korosivitas rendah.
- Berpotensi mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas ekstraksi emas.
Faktor Teknis yang Mempengaruhi Proses Pelindian Emas Menggunakan Sandioss
Efektivitas Sandioss dalam melarutkan emas dipengaruhi oleh beberapa parameter operasi utama, yaitu:
1. Konsentrasi Sandioss
Konsentrasi bahan kimia pelindi menjadi faktor penting karena menentukan jumlah reagen yang tersedia untuk bereaksi dengan mineral pembawa emas.
Penelitian dilakukan dengan variasi konsentrasi Sandioss sebesar 800–1000 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimal diperoleh pada konsentrasi 900 ppm Sandioss.
Penggunaan konsentrasi yang tepat dapat meningkatkan efisiensi pelindian sekaligus mengurangi konsumsi bahan kimia yang tersisa setelah proses ekstraksi.
2. Ukuran Partikel Bijih Emas
Ukuran partikel merupakan parameter penting karena berhubungan langsung dengan luas permukaan mineral yang dapat kontak dengan reagen.
Pada penelitian ini, sampel bijih emas dihancurkan dan digiling menjadi ukuran:
- Kurang dari 150 µm
- Kurang dari 75 µm
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran partikel <75 µm memberikan hasil pelindian lebih baik dibandingkan ukuran <150 µm. Partikel yang lebih halus memiliki luas permukaan lebih besar sehingga meningkatkan kontak antara mineral pembawa emas dengan Sandioss.
3. Pengaruh pH pada Pelindian Emas
Nilai pH menjadi salah satu parameter penting dalam menjaga kondisi reaksi selama proses ekstraksi emas.
Percobaan dilakukan pada kondisi pH 12, dengan pengaturan menggunakan kapur hidrat (hydrated lime/Ca(OH)₂). Kondisi basa diperlukan untuk mendukung proses pelindian dan menjaga kestabilan reaksi kimia.
4. Waktu Pelindian (Leaching Time)
Durasi pelindian menentukan jumlah emas yang berhasil terlarut dalam larutan.
Penelitian menggunakan waktu pelindian antara 12–72 jam. Hasil terbaik diperoleh setelah 72 jam, dimana kadar emas meningkat dari 3,112 ppm menjadi 9,716 ppm. Pada waktu 48 jam, kadar emas telah meningkat menjadi 8,810 ppm.
Metode Analisis Kandungan Emas Setelah Pelindian
Untuk mengetahui jumlah emas yang berhasil diekstraksi, penelitian menggunakan beberapa metode analisis laboratorium, yaitu:
Atomic Absorption Spectrometer (AAS)
AAS digunakan untuk menentukan konsentrasi emas berdasarkan kemampuan atom emas menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu.
Parameter analisis AAS pada penelitian ini menggunakan:
- Panjang gelombang: 267,6 nm
- Flame: air-acetylene
- Lamp current: 5 mA
- Slit width: 0,2
Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometer (ICP-OES)
ICP-OES digunakan sebagai metode alternatif untuk analisis emas dengan keunggulan mampu melakukan pengukuran lebih cepat dan menganalisis beberapa sampel sekaligus.
Baca juga: Proses Pengolahan Emas dengan Sistem Perendaman
Hasil Optimasi Ekstraksi Emas Menggunakan Sandioss
Berdasarkan hasil penelitian, kondisi terbaik proses pelindian emas menggunakan Sandioss adalah:
| Parameter | Kondisi Optimal |
| Reagen pelindi | Sandioss |
| Konsentrasi Sandioss | 900 ppm |
| Ukuran partikel | <75 µm |
| pH | 12 |
| Waktu pelindian | 72 jam |
| Peningkatan kadar emas | 3,112 ppm menjadi 9,716 ppm |
Hasil tersebut menunjukkan bahwa Sandioss mampu meningkatkan pelepasan emas dari mineral pengikatnya dan memiliki potensi sebagai bahan kimia alternatif dalam pengolahan bijih emas refraktori.
Perbandingan Sandioss dan Sianida dalam Ekstraksi Emas
| Parameter | Sandioss | NaCN |
| Tingkat toksisitas | Rendah | Tinggi |
| Risiko gas beracun | Tidak menghasilkan gas berbahaya | Dapat menghasilkan hidrogen sianida |
| Dampak lingkungan | Lebih rendah | Berisiko mencemari lingkungan |
| Penggunaan | Tidak membutuhkan perlakuan khusus tinggi | Membutuhkan pengendalian ketat |
| Aplikasi | Bijih refraktori dan berbagai sumber emas | Metode standar industri |
Kesimpulan
Sandioss merupakan salah satu alternatif bahan kimia pelindi emas yang memiliki potensi menggantikan penggunaan sianida pada pengolahan bijih emas refraktori. Faktor utama yang menentukan keberhasilan proses adalah konsentrasi reagen, ukuran partikel, pH, dan waktu pelindian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimal diperoleh menggunakan Sandioss 900 ppm, ukuran partikel kurang dari 75 µm, pH 12, dan waktu pelindian 72 jam. Pada kondisi tersebut, kadar emas meningkat dari 3,112 ppm menjadi 9,716 ppm.
Dengan karakteristik yang lebih aman dan tingkat efektivitas yang baik, Sandioss memiliki peluang untuk digunakan sebagai teknologi ekstraksi emas yang lebih ramah lingkungan, terutama pada pengolahan bijih emas yang sulit diproses menggunakan metode sianidasi konvensional. Supplier bahan kimia yang sudah berpengalaman seperti chemtra Nusa Ina sudah merekomendasikan Sandioss sebagai bahan penggangti sianida untuk proses pengolahan emas.




